-->

Seorang Mukmin bisa bersikap ajaib???

"Ketika Alloh belum memenuhi apa yg kita inginkan,kemungkinan besar Alloh tengah mendidik kita untuk mensyukuri apa yg telah ia anugrahkan kepada kita..."

saudaraku, dalam perjalanan hidup kita
sampai detik ini, mungkin kita pernah
merasakan akan adanya nilai atau harga dari
sesuatu hal saat sesuatu itu sudah tidak ada.
Saat sesuatu itu masih ada, seringkali kita
menganggapnya biasa atau bahkan menyia-
nyiakannya. Dan saat sesuatu itu sudah tidak
ada atau hilang dari diri kita, baru kita bisa
merasakan akan adanya nilai atau harga dari
sesuatu itu bagi diri kita.
Nikmat sehat misalnya, saat kita masih
memiliki tubuh yang sehat mungkin kita
menganggap kesehatan itu sebagai nikmat
yang biasa dan kadang tidak menghargainya.
Namun berbeda saat nikmat sehat itu mulai
berkurang dari diri kita atau saat kita
ditimpa suatu penyakit, kita baru menyadari
betapa besarnya nikmat sehat itu bagi kita.
Di dalam Islam, Allah mengajarkan agar kita
senantiasa mensyukuri setiap nikmat dan
karunia yang Allah berikan kepada kita.

Di dalam Q.S Ibrahim ayat 7 Allah SWT
berfirman:

Dan (ingatlah juga) tatkala Rabb-
mu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu
bersyukur,pasti Kami akan menambah
(nikmat) kepadamu, dan jika kamu
mengingkari (nikmatKu), sesungguhnya adzab-
Ku sangat pedih” .

Nabi Muhammad SAW juga pernah memuji
keistimewaan seorang Mukmin dalam
menyikapi segala hal yang Allah berikan
kepadanya. Beliau bersabda:

Sungguh ajaib perkara seorang mukmin itu. Sesungguhnya
segala sesuatu baginya adalah kebaikan. Dan
tidak-lah yang demikian itu berlaku pada
seseorang kecuali orang-orang mukmin. Jika
menda-patkan kelapangan ia bersyukur, dan
itu kebaikan baginya. Dan jika mendapatkan
kesu-karan ia bersabar, dan itu pun kebaikan
baginya.” (H.R. Muslim).

Seorang mukmin bisa bersikap ajaib seperti
itu karena dia tidak menjadikan dunia ini
sebagai tolak ukur utama sebuah kesuksesan
dan kebahagiaan. Saat mereka ditimpa suatu
musibah mereka bisa bersikap sabar karena
memang dia bisa memahami bahwa itu adalah
ujian yang datang dari Allah dan hal itu tidak
hanya menimpa dirinya seorang. Selain itu
mereka tahu bahwa Allah tidak akan
memberikan ujian kepada hamba-Nya
melebihi batas kemampuannya.

Sebagaimana firman Allah SWT di dalam Q.S al-Baqarah ayat 286:

Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”

Dan memang segala bentuk kesusahan dan kegundahan yang
menimpa umat manusia di dunia ini
mempunyai batas akhir, sebagaimana dunia
ini.
Dan saat seorang mukmin mendapat suatu
nikmat dan karunia dari Allah SWT mereka
akan senantiasa mensyukuri nikmat itu.
Mereka paham bahwa nikmat itu tidak akan
mengekalkannya dan Allah bisa saja mencabut
nikmat itu kapan saja.
Jadi seorang mukmin akan benar-benar mempergunakan nikmat dan karunia yang Allah berikan itu dengan sebaik-baiknya.
Karena hal itulah yang justru
akan membuatnya memperoleh kedamaian
hati, yaitu saat mereka bisa bersyukur atas
segala limpahan nikmat dan karunia-Nya.
Ada satu kaidah yang harus kita pahami
bersama dalam hidup ini. Dalam hal ilmu dan
keimanan kita harus memandang ke atas
(orang yang lebih dari kita), agar kita
senantiasa menjadi hamba Allah yang
tawadhu’ (rendah hati) dan senantiasa
memperbaiki diri. Namun dalam hal
keduniawian, kita harus memandang ke
bawah (orang yang tidak seberuntung kita),
agar kita senantiasa menjadi hamba Allah
yang bersyukur, dan tidak lalai kepada asal
muasal nikmat itu berasal.
Jadi wahai saudaraku, jadilah kita menjadi
hamba Allah yang senantiasa bersyukur.
Karena hidup kita akan menjadi tenang saat
kita bisa mensyukuri segala bentuk nikmat
dan karunia-Nya. Dan hal itulah yang memang harus kita lakukan, yaitu bersyukur kepada Allah SWT. Jadi, marilah kita rasakan
kekuatan dahsyat dari bersyukur.
Wallahu a’lam .