Tentang Demo Bela Islam 411 dan 212 itu, dihiasi kontroversi di kalangan internal umat, ada yang setuju ada tidak, ada membenarkan ada yang menyalahkan.
Sambil santai dan ngopi, yuk nyari jawaban normatif: Benar salah sih demo itu? Jawabannya gak usah rumusan-rumusan pemikiran yang serius, deskripsi-deskripsi argumen yang canggih, dalil atau atau penjelasan hebat, yg ringan-ringan sajalah, yang nyantai, tapi pikiran dan hati mungkin bisa nerima.
Saya merenungkan saja beberapa fakta ini:
1. Ada gak sih yang bisa ngumpulin massa untuk demo 2-3 juta orang sebegitu antusiasnya semua orang datang dengan sukarela, sukacita dan semua gembira?
2. Massa yang 2-3 juta orang itu berkumpul terkonsentrasi di suatu tempat, yang judulnya demo alias unjuk rasa, tapi berjalan rapih, bisa menjaga diri, tertib dan aman, gak rusuh apalagi berdarah-darah karena menjadi kerusuhan massal yang tak terkendali. Ini kan tidak.
3. Awal bulan Nopember itu, hujan besar turun hampir setiap hari dan menimbulkan banjir dimana-mana. Pokoknya kalau sdh masuk dzuhur, awan pekat, dunia gelap dan pasti turun hujan di beberapa kota di Indonesia. Itu setiap hari. Sampai yang kontra senang karena BMKG meramalkan akan turun hujan seperti biasa. Tapi tak ada yang mengerti tanggal 4 nya alias 411 itu hujan gak turun dan udara cerah, semacam jeda dulu, istirahat dulu hari itu.
4. Umat Islam itu paling susah bersatu, dari dulu begitu. Karakternya memang begitu, dinamis. Saat itu juga gak semua sih, tapi saat itu tidak biasanya, banyak ormas Islam bersatu gegap gempita. Ini tumben bin heran bin aneh.
5. Selain tertib dan damai, di tengah demo itu ada pasangan Kristen akan menikah dan berjalan menyeberang jalan melintasi mereka yang demo. Pasangan Kristen itu disebrangkan, dijaga dan diamankan sehingga mereka senang dan bahagia.
6. Puluhan ribu umat Islam yang masih berdemo habis maghrib mendatangi Istana negara, mereka disemprot gas air mata oleh aparat kepolisian tapi pendemo tumben bertahan dan tidak melawan sehingga situasi tidak macam dan bertambah parah.
7. Terakhir, rombongan aksi dari Ciamis, jumlahnya ratusan nekad berjalan kaki, dengan ikhlas dan yakin mereka menghayatinya sebagai perjuangan. Berjalan kaki sekitar 350 km ke Jakarta bis-bis dilarang oleh kepolisian untuk mengangkut mereka. Niat mereka tak surut, tetap akan berjalan. Dan akhirnya, Allah membukakan pintu hati mereka yang sedang berkuasa. Polri mencabut larangan itu dan bis boleh lagi mengangkut mereka walau mereka tetap memilih berjalan kaki. Banyak air mata berurai membaca kisah keteguhan mereka.
Apakah itu semua bukti kebenaran atau benarnya aksi itu yang diridhai Allah karena tujuannya membela Al-Qur'an?? Ya wallahu a"lam. Tapi tidakkah gejala itu semua, diantara gejala lain yang masih banyak, mengetuk kesadaran kita tentang mungkinnya sebuah kebenaran?
Masih adakah ruang bagi kelompok Islam lain yang masih saja sentimen, berburuk sangka dan menganggap mereka bodoh??
Benarkah kita lebih pintar dan lebih benar??