Pembesar Sufi itu sempat terpaku ketika melihat pemandangan yang sedang Allah hidangkan di depan matanya. Sang Waliyullah itu terpana melihat ada satu orang yang tetap terduduk di atas pelana kudanya, padahal semua kawanan perampok itu sedang berebut harta sembari berpesta menikmati hasil rampokannya.
Akhirnya sang Waliyullah itu mendatangi satu orang itu dan bertanya: "aku lihat sedari tadi engkau terdiam di atas pelana kudamu, engkau terlihat lain daripada teman-temanmu itu. Mengapa engkau tak turut serta berebut harta dan berpesta seperti mereka?"...
"Aku terlihat lain karena aku pemimpin mereka, dan aku tidak turut serta karena sedang berpuasa." Jawab lelaki berkuda tanpa melihat wajah sang Waliyullah itu.
"Apa... engkau sekarang ini berpuasa?"... Terperanjat sang Waliyullah dalam tanya sambil terus memandang ke arah kepala perampok itu.
"aku tahu merampok itu perbuatan dosa, tapi aku juga pernah mendengar bahwa Tuhan-ku berfirman jika puasa adalah urusan-Ku (Tuhan) dengan hamba-Ku."
Jawab kepala perampok itu tanpa melihat ke arah sang waliyullah sembari mengarahkan kudanya agar berjalan ke arah anak buahnya.
Dalam keadaan diam terpaku, sang Waliyullah melihat kepala perampok itu seperti memberi kode (komando) kepada salah seorang mereka dan kemudian kepala perampok itu pergi meninggalkan anak buahnya.
Sang Waliyullah itu tersenyum sendiri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sembari bertasbih, bertahmid, bertakbir, dan bertahlil memuji kepada Allah SWT. Sang Waliyullah terus berdzikir sambil tersenyum yang pada akhirnya ada yang melihat sang Waliyullah itu menangis tersedu-sedu hingga sang Waliyullah itu tak menyadari jika dirinya sendiri dalam sepi karena di tinggal pergi para kawanan perampok tadi.
Lama berselang, pada suatu waktu sang Waliyullah itu pergi ke kota Makkah. Melihat kedatangan sang waliyullah tersebut, banyak orang yang mengerubuti sang Waliyullah dengan berbagai macam maksud. Semakin lama semakin banyak orang yang datang karena mereka yang sudah berjumpa dengan sang Waliyullah, karena begitu gembiranya mereka itu sampai bersya'ir di jalan-jalan guna mengabarkan jika salah pembesar sufi yang agung Syaikh Abu Bakar as asy-Syibli sedang berada di kota Makkah. Yah... Sang Waliyullah yang bertemu dan berbincang dengan kepala perampok itu adalah asy-Syibli Ra.
Setelah melayani masyarakat, beliau asy-Syibli Ra pada waktu malam masuk ke kawasan Masjid al-Haram. Terlihat olehnya ada seseorang yang duduk tawarruk dengan sangat khidmat dan dari sekitar punggungnya memancar cahaya benderang hingga menembus ke atas langit dunia. Asy-Syibli terdiam dan tergerak hatinya ingin mengetahui siapa gerangan hamba Allah tersebut. Singkat cerita karena setelah dicari secara bathin (kasyaf) kedudukan derajat orang tersebut tidak segera diketahui, akhirnya asy-Syibli Ra mendekati sosok yang bercahaya itu. Setelah menghaturkan salam kemudian asy-Syibli Ra bertanya: "wahai saudaraku, sudikah engkau mengenalkan diri kepada kami?"...
Sosok tadi membalas salam dan menoleh kepada asy-Syibli Ra sembari menjawab:
"Yaa Syaikh, aku adalah kepala perampok yang dulu pernah bertemu dengan Tuan."
Terperanjat asy-Syibli Ra mendengar jawaban sosok tersebut yang kembali meneruskan jawabannya: "aku meyakini dan membenarkan semua Kalam Allah, aku berpuasa meski merampok karena aku yakin dengan Allah SWT yang berfirman dalam hadist Qudsi :
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ، إِلَّا الصِّيَامَ، فَهُوَ لِي، وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
“Setiap amalan anak Adam itu adalah (pahala) baginya, kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya.” (Muttafaqa 'alaihi). Aku berpuasa karena aku sangat mengharapkan pintu taubat, dan meski merampok hatiku merintih menangis, bahkan aku dulu berbicara dengan Tuan tanpa memandang wajah itu karena sesungguhnya aku malu atas perbuatanku. Dan Alhamdulillah wa Syukurillah bi Fadhlillah, Allah membukakan pintu taubat untukku hingga kita bisa bertemu dalam kondisi seperti saat ini."
Home
dunia islam
Faedah2 yg terpilih
kata Bijak
MutiaraHikmah
plajaran hidup
renungan
KISAH SANG WALI DENGAN PERAMPOK
